Minggu, 11 Desember 2011

Pompa Pengairan Sawah Belum Pernah Berfungsi

Perangkat pompa dan penyalur air bantuan pemerintah pusat tahun anggaran 2009 untuk mengairi ratusan hektare sawah tadah hujan di Kec. Ujungjaya, Kab. Sumedang, hingga saat ini belum pernah difungsikan. Bangunan plus perangkat pompa dan penyalur air yang terpasang di tepi Sungai Cimanuk sekitar Dusun Balerante, Desa Palabuan itu, saat ini malah sudah mulai mengalami kerusakan.
Menurut sejumlah petani dan pekerja galian pasir sungai di Dusun Balerante yang dihubungi "PRLM" Minggu (11/12), awalnya, perangkat itu sudah difasilitasi juga aliran listrik PLN untuk menggerakan dinamo mesin pompa airnya. Namun, menurut mereka, sebelum unit pemompa dan penyalur air itu difungsikan, sambungan listriknya malah diputus oleh PLN.
"Sampai sekarang pompa dan saluran untuk pengairan sawah ini, belum pernah digunakan. Masalahnya, saya tidak tahu," ujar seorang petani yang sedang mengarap ladang palawija di sekitar pompa tersebut Didi Casmadi (53) dibenarkan Yeye (48) dan sejumlah warga Dusun Balerante lainya yang sedang berada di lokasi tersebut.
Bahkan menurut mereka, mesin pompa airnya pun, sejak dua bulan lalu sudah dicabut dan belum dipasang kembali. "Kata orang yang mengambilnya, mesin itu rusak karena terendam air. Tidak tahu, apa mau diperbaiki atau diganti dengan mesin baru," ujar Yeye.
Selain itu, beberapa sambungan pipa paralon berdiameter sekitar 10 centi meter untuk penyalur airnya, menurut mereka banyak yang tidak tersambung rapat. Bahkan, di beberapa titik banyak yang tidak dikubur serta sudah mulai mengalami tanda-tanda kerapuhan.
Teramati, bangunan utama berupa tiga sumur penampung air di tepi sungai, bak tempat mesin pompa air tenaga listrik, serta gedung permanen berukuran sekitar 3 kali 2 meter di lokasi itu, sampai saat ini masih cukup kokoh. Tiang dan kabel jaringan listrik pendukung proyek itu, juga masih terhubung ke gardu PLN, tetapi ujung kabelnya belum disambungkan kembali ke tempat perangkat pompa air tersebut.
Dimintai tanggapan mengenai hal itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Sumedang Soenaryo Soehanda, menyebutkan, perangkat tersebut dibangun pihaknya tahun 2009 dibiayai bantuan APBN senilai Rp 800 juta. Bantuan sarana pompa dan penyalur air itu dibangun untuk mengairi areal sawah tadah hujan seluas lebih kurang 200 hektare di Desa Palabuan, Keboncau, dan sekitarnya.
Dia menyebutkan, bantuan perangkat tersebut diarahkan pihaknya untuk difungsikan dan dikelola oleh kelompok tani. Namun, pemanfaatan perangkat bantuan pemerintah tersebut sampai sekarang belum sempat dilaksanakan kelompok tani.
Masalahnya, menurut Soenaryo, di antaranya karena pada awalnya sempat terganjal belum ada sambungan listrik PLN. Kemudian setelah dipasang jaringan listrik PLN, unit itu tidak juga digunakan dan dikelola oleh kelompok tani dan biaya bebannya tidak ada yang membayar sehingga sambungan listriknya diputus PLN. Tunggakan beban listriknya sekarang sudah kami bayar. Beberapa bulan lalu, kami juga sudah mengadakan pertemuan dengan kelompok tani di sana," ujar Soenaryo.
Dari pertemuan itu, menurut Soenaryo, kelompok tani beranggotakan pemilik dan penggarap sawah tadah hujan sasaran alat bantu pengairan itu, sudah menyatakan kesiapannya untuk segera memungsikan dan memanfaatkan perangkat bantuan pemerintah tersebut.
"Namun, untuk sementara ini, alat itu belum difungsikan karena dinamo mesin pompa airnya rusak terendam air dan sampai sekarang masih diperbaiki bengkel. Selain itu, pada musim hujan ini, sawah-sawah yang akan diairinya juga sedang subur air," kata Soenaryo, seraya berharap pada musim kemarau yang akan datang, sarana bantuan pengairan itu sudah bisa difungsikan dan dimanfaatkan petani.

0 komentar:

Poskan Komentar