Kamis, 22 Desember 2011

SEKARANG ini mungkin hanya segelintir orang yang masih peduli terhadap warisan leluhurnya. Dan dari segelintir orang itu adalah Asep Koswara (43) warga Dusun Lembur Warung, Desa Rancamulya, Kecamatan Sumedang Utara, Kab. Sumedang. Hingga kini ia masih merawat lisung pemberian nenek moyangnya. Meski kondisi lisung tersebut sudah rusak, “koropok” di sana-sini, namun Asep tetap menyimpan dan memeliharanya.
“Pami warisan harta benda mah kadang sok seep teu puguh pami urangna teu tiasa ngurusna. Benten sareng warisan nu bentukna benda, lamun ku urang dimumule tur yakin yen eta teh bener-benar kanyaah ti kolot urang, tong salah kadang sok mawa berekah kana kahirupan urang,” kata Asep.
Menurut Asep, lisung itu pemberian ayahnya, H. Uyu (72) warga Majalaya, Bandung. Ayahnya pun mewarisi lisung tersebut dari kakek Asep (ayah H. Uyu).
Bagi keluarga Asep, lisung atau tempat menumbuk padi di zaman dulu itu merupakan sebuah lambang status sosial. Orang yang memilik lisung, biasanya dianggap sebagai keluarga terpandang, atau paling tidak keluarga yang memiliki sawah luas serta ditokohkan di kampungnya.
Tak heran jika Asep memandang lisung tersebut sebagai simbol keberkahan atau kehormatan. Oleh karena itu, saat ayahnya memberikan lisung sebagai warisan, Asep menerimanya dengan penuh kebahagiaan. Bahkan langsung membawanya ke rumahnya yang sekarang di Kampung Lembur Warung.
Dijelaskan Asep, lisung warisan leluhur yang memiliki panjang 4 meter dengan lebar 50 cm itu, dibuat oleh “baonya” sekitar 110 tahun silam. Lisung itu pun selalu diwariskan kepada anak laki-laki tertua dari keluarganya. Asep merupakan keturunan ke empat yang mewarisi lisung karuhun tersebut.
Kondisi lisung warisan leluhur Asep, tampak sudah rusak. Bagian pinggirnya sudah lapuk dimakan rayap. “Tos kolot umurna, tapi kanggo abdi mah ieu lisung teh berharga pisan, moal tiasa dinilai ku artos. Matakna sok sanaos tos rada reksak, tetep we bakal dimumule ku abdi mah dugi ka tiasa ka wariskeun deui ka putra pameget engke,” kata ayah dua anak yang bekerja di salah satu BPR di Tanjungsari itu.
Ditambahkannya, selain sebagai pajangan di rumahnya, lisung itu pun kerap ditabuh jika waktu gerhana.

0 komentar:

Poskan Komentar