Minggu, 11 Desember 2011

Bagus, Prospek Kopi Sumedang

Pemerintah Kabupaten Sumedang kini tengah berusaha membudidayakan tanaman kopi yang mulai dilupakan petani. Padahal komoditas ekspor ini memiliki prospek yang bagus. Apalagi permintaan pasar dunia akan kopi yang dihasilkan negara-negara di Asia, di antaranya Indonesia, terus mengalami peningkatan.

"Tren seperti itu tentunya harus direspons secara positif. Dan kita jangan kalah melangkah oleh negara lain," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kab. Sumedang, Ir. Amim M.M. didampingi Kepala Bidang Perkebunan, Ir. Kusman kepada "GM" di ruang kerjanya, Jumat (9/12).

Untuk menuju arah itu, dibutuhkan peranan petani untuk membudidayakan tanaman kopi berskala ekspor. Menyikapi peluang usaha yang terbuka lebar, menurut Amim, petani di Kabupaten Sumedang jangan sampai ketinggalan momentum. Apalagi sebagian besar wilayah di Kabupaten Sumedang cocok untuk pengembangan dan budi daya kopi.

Adapun kopi yang disukai pasar dunia yaitu jenis robusta dan arabika. Kopi jenis robusta dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah antara 500-700 meter di atas permukaan laut (dpl). Sedangkan kopi arabika membutuhkan ketinggian lebih dari 700 meter dpl agar pertumbuhan buahnya optimal. "Masa produktifnya pun relatif cepat. Kedua jenis kopi sudah berbuah pada usia dua tahun sejak penanaman," terangnya.

Di samping itu, kopi dapat tumbuh di bawah tegakan. Dengan karakteristik seperti itu, untuk budi daya kopi secara besar-besaran, tidak perlu melakukan penebangan pohon. "Karakteristik kopi bisa tumbuh dengan baik jika ada perindang. Dengan begitu, budi daya kopi tidak akan mengganggu tegakan yang ada," ujarnya.

Dari berbagai upaya yang sudah dilakukan, saat ini di wilayah Kabupaten Sumedang sudah ada sekitar 1.000 hektare perkebunan kopi. Meliputi wilayah Kecamatan Wado, Rancakalong, Cibugel, Sukasari, dan Cisitu. Areal perkebunan kopi seluas itu dalam operasionalnya dikelola kelompok tani.

Pemberdayaan kelompok tani mutlak harus dilakukan agar budi daya kopi berskala ekspor dapat terwujud secara sistematis. "Ke depan kami ingin Sumedang menjadi salah satu sentra penghasil kopi terbesar, khususnya di Jawa Barat. Predikat itu harus diimbangi pula dengan peningkatan kesejahteraan petani," tandasnya.

Saat ini kopi yang dihasilkan petani, masih dihargai murah oleh bandar, sekitar Rp 17.000/kg karena mereka tidak memiliki akses langsung dengan pasar. "Selama ini pemasaran hasil kopi petani masih bergantung pada harga penawaran bandar. Untuk mendongkrak posisi tawar petani, pemerintah akan membantu pemasarannya sampai pada tahap ekspor," imbuhnya.

0 komentar:

Poskan Komentar