Senin, 21 November 2011

DALAM membangun perumahan di kota-kota besar, para pengembang membuat berbagai bentuk dan desain rumah tinggal dengan konsep yang modern. Tentu saja bahan baku yang digunakan pun sesuai standar untuk rumah-rumah di kota, dari mulai beton hingga batu alam sebagai hiasan.

Lantas, bagaimana dengan nasib perajin bilik di Desa Cilayung, Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang? Apakah mereka terjepit di tengah gencarnya pembangunan rumah modern? Ternyata tidak terpengaruh.

Perajin di sana masih menghasilkan produksinya. Bahkan belakangan ini jumlah penjualan tergolong stabil seperti yang diungkapkan Emen Suherman (60), salah seorang perajin sekaligus penjual bilik yang ditemui di Jalan Raya Tanjungsari, Kab. Sumedang, Kamis (5/8).

Menurutnya, meski rumah-rumah sekarang jarang menggunakan bilik, namun penjualan tak mengalami kelesuan. "Sadinten aya wae nu ngagaleuh mah. Paling saalit 20 lembar bilik mah kaical," kata Emen.

Para pembeli, sambung Emen, tidak hanya datang dari wilayah Bandung, Sumedang, dan sekitarnya, tapi juga dari berbagai pelosok di Jawa Barat. "Seueurna ti Tangerang, Sukabumi atawa Banten nu ngagaleuh teh. Ti Bandung ge aya, tapi jarang," ungkap Emen yang menjual bilik berbagai ukuran mulai dari Rp 7.000-Rp 20.000 per meter.

Dalam kesempatan itu, Emen bercerita soal perajin bilik di Desa Cilayung. Katanya, masyarakat di sana mayoritas merupakan perajin bambu mulai dari sapu lidi, injuk hingga bilik. "Abdi oge ngawitan terjun janten perajin bilik ti bujangan. Ngolah awi janten bilik teh tos janten sumber nafkah kanggo kulawarga," bebernya.

Menurut Emen, bilik hasil karyanya selain dijajakan di pinggir jalan, juga ditawarkan ke toko bangunan. Biasanya, bilik-bilik ini digunakan untuk membuat warung, gubuk, atau dinding dan atap rumah. Bilik bambu beragam jenisnya. Ada bilik khas Cilayung yang disebut bilik daging atau bilik motif yang ukurannya mencapai 2,5 x 2 meter.

Bisa tahan 20 tahun

Sambil mengerjakan selembar bilik daging di pekarangan tempat jualannya, Emen yang saat itu didampingi putranya, Atep (28) menjelaskan bahwa bambu sangat layak dijadikan bahan bangunan, terutama untuk rumah tinggal, rumah kebun, atau gazebo. Bambu memiliki elastisitas tinggi, tidak mudah patah, sehingga walaupun diguncang gempa besar, rumah bambu mempunyai risiko terendah untuk roboh atau rusak. "Bilik teh bisa tahan langkung ti 20 taun asal perawatana nu leres," ujarnya.

Emen memaparkan bagaimana agar bilik bisa awet. Menurutnya, mulai dari waktu penebangan bambu hingga proses pengawetan harus dilakukan dengan baik. Fungsi bambu tak hanya sekadar memperlihatkan keunikan, tapi bermanfaat bagi kelancarakan sirkulasi udara. Di dalam rumah bambu biasanya akan terasa sejuk saat siang hari karena masih menyimpan udara malam. Terasa nyaman dan hangat pada malam hari, karena masih menyimpan udara siang. Jadi, kenapa tidak rumah kita pun dihiasi bahan dari bilik. Selain sejuk, juga terkesan alami.

1 komentar:

setiadi oembara mengatakan...

minta kontak pengrajin biliknya gan..urgent

Poskan Komentar