Jumat, 16 Januari 2009

Menyelusuri Jejak Senpi Rakitan di Cikeruh Sumedang (Bagian 1 dari 2 tulisan)
Awalnya hanya Coba – coba Meniru Senjata Angin

SUMEDANG – Perajin senapan angin diketahui masyarakat luas berada di perbatasan kota Bandung. Namun sesungguhnya perajin senapan angin ini berada di kota Sumedang, yang selama ini lebih khas dengan "tahu" atau "kuda renggong".

Bisa dibilang hampir tidak ada yang tahu bahwa Sumedang kotanya perajin senapan angin. Lokasinya yang jauh dari pusat kota Sumedang, sekitar 40 kilometer arah selatan, yang menimbulkan persepsi masyakarat bahwa Bandung merupakan sentra perajin senapan angin. Ini karena, jalan tol ke arah Sumedang berakhir di kawasan pusat kerajinan rakyat ini di Cileunyi- Rancaekek.

Sepanjang jalan Cileunyi – Rancaekek itu kita akan menemui sederet nama desa seperti Cipacing, Sayang, Cileles, Cikeruh, Cilampi, Hegarmanah, Jatiroke, Jatimukti yang ke semuanya berada di wilayah Kecamatan Cikeruh, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Di desa-desa itulah yang selama ini menjadi pusat bermukim perajin senapan angin.

Alam wilayah Kecamatan Cikeruh yang terbilang paling jauh dengan pusat kota Sumedang ini memang agak tandus, sebab terletak di sekitar perbukitan. Dengan potensi alam yang terbatas itulah, maka menempa warganya untuk bekerja keras agar bisa mencukupi kebutuhan sehati-hari.

Keterbatasan alam ini memunculkan ide para warganya untuk berkreasi dengan ala kadarnya seperti membuat berbagai macam barang untuk keperluan rumah tangga, seperti pisau dapur, sabit, pacul, palu, kompor, wajan, sendok dan lain sebagainya. Seiring perkembangan zaman, dari kegiatan sederhana itu meningkat menjadi perajin barang-barang souvenir untuk konsumsi wisatawan berupa barang-barang antik sebagai cinderamata. Dari cinderamata ini para perajin berkembang pada produksi senapan angin.

Perajin Pertama

Perajin senapan angin pertama bernama Mama R Sumadimadja, pada tahun 1970-an. Di masa penjajahan, waktu itu sosok Mama R Sumadimadja memang cukup disegani warga setempat. Malahan, para serdadu-serdadu Belanda yang waktu itu bermukim di sekitar Bandung sering memanfaatkan keahlian Mama Sumadimadja ini untuk menservis senapan angin, senjata api (senpi) mereka.

Dari satu keluarga ke keluarga lain, begitulah ilmu itu diturunkan akhirnya berkembanglah ke hampir merata ke sepuluh desa di wilayah Kecamatan Cikeruh – Kabupaten Sumedang.

Perlahan-lahan kegiatan lama (membuat peralatan rumah tangga, souvenir) mulai ditinggalkan, dan hampir semua warga mulai keranjingan membuat membuat senapan angin. Apalagi, kalau dilihat dari segi peralatan yang digunakan untuk membuat senapan angin ini juga hampir sama dengan yang dipakai untuk membuat peralatan rumah tangga dan souvenir, sehingga praktis tak ada kesulitan sedikitpun.

Data yang ada di Koperasi ”Bina Karya” wadah berhimpun para perajin senapan angin hingga tahun 2001 ini mencapai sekitar 1.500 – 2.000 orang, walau yang menjadi anggota aktif hanya berkisar 200 orang perajin. Menurut Saud, Ketua Koperasi Bina Karya kebanyakan perajin tidak mau terikat pada lembaga perkoperasian, "Tapi, alhamdullilah, sampai sekarang koperasi Bina Karya ini telah memiliki asset mendekati 50 juta,”

Hidup Meningkat.

Produk secara keseluruhan, dari sekitar 2000 perajin dikalikan per bulan rata-rata 8 pucuk senapan angin maka per bulan bisa mencapai 16.000 buah senapan angin. Jumlah produksi senapan angin ini ternyata taraf kehidupan warga pun terus mengalami peningkatan.

Tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, lebih dari itu para perajin bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Contohnyta Maman Charli perajin dari desa Cipacing, ia mengaku, setiap bulan mampu memproduksi lebih dari 10 buah senapan angin dengan jenis merk Benyamin, BSA, dan Diana. Maman juga menuturkan dari membuat senapan angin ini bapak sepuluh anak ini memiliki tiga buah toko senapan angin. Hasilnya ia memiliki rumah dan mobil. Ia mampu memenuhi rumah tangganya dengan perlengkapan yang mewah. Dari sepuluh orang anaknya, ada yang sudah bekerja, ada yang kuliah dan ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah.

Harga satu senapan angin juga bervariasi, mulai dari Rp 100.000 – Rp 4 juta. Pangsa pasar tidak hanya di sekitar Jawa Barat, tapi produk H Maman Charli yang memperkerjakan sepuluh orang ini sudah sampai ke hampir seluruh wilayah Indonesia.

"Kalau hanya diedarkan di wilayah Jabar, ya mungkin tidak bisa sebesar ini. Karena hampir di semua kota-kota besar kami punya relasi bisnis, sehingga tidak mengalami kesulitan untuk memasarkannya. Namun, sejak situasi krisis sampai sekarang omset penjualan terus menurun. "Walau demikian tiap hari ada saja yang beli entah itu satu atau dua, sehingga tetap eksis,” kata Maman Charli.

Dari pemantauan SH di lapangan, hampir semua perajin ini memiliki bengkel kerja, yang didalamnya dilengkapi dengan mesin bubut dan segala peralatan perajin besi. Pasokan bahan baku menurut Maman tidak pernah kekurangan. Satu perajin paling sedikit punya lima orang pekerja. Umumnya, perajin-perajin ini juga punya toko untuk memajang hasil kerajinannya di depan rumah mereka. Selain senapan angin, sebagaimana lazimnya suatu toko produk khas, disajikan juga berbagai aksesori yang dibutuhkan seperti sarung senapan. Sarung atau bungkus senapan angin dibuat sedemikian rupa menyerupai tas kerja sehingga terkesan praktis.

Kemampuan merekayasa kebutuhan konsumen dalam aksesori senapan angin berawal dari kemampuan para perajin memenuhi permintaan tentara Belanda untuk menserpis senjata api dan membuatkan senapan angin untuk hobi mereka. Kemampuan ini pun sampai kini masih ada dan berkembang sebagaimana industri rumah tangga mereka ini. Hampir semua perajin mengakui membuat senpi tidak jauh beda dengan membuat senapan angin. (SH/Anton Suparno)….

0 komentar:

Poskan Komentar