Jumat, 18 November 2011

Tari Cikeruhan

Budayawan Jatinangor resah dengan seni cikeruhan. Pasalnya, seni yang diduga berasal dari Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, ini sudah jarang dipentaskan di tempat asalnya. Seniman yang ahli bermain musik pengiring cikeruhan juga semakin langka.

Di kalangan masyarakat, definisi cikeruhan sering ambigu. Pada sebuah program Sanggar Motekar bertema "Cikeruhan Ceuk Urang Cikeruh" untuk meneliti keberadaan seni cikeruhan, tidak ada jawaban gamblang soal definisi cikeruhan. Ada yang menganggap cikeruhan itu judul tembang lagu Sunda. Ada juga yang menyebut bahwa cikeruhan adalah seni sandiwara, tari, dan genre musik.

Namun, Supriatna (58), Ketua Sanggar Motekar dan budayawan Jatinangor yang fokus mengangkat dan memajukan seni tradisi di wilayahnya, mengatakan, cikeruhan merupakan seni tradisi tari pergaulan yang sudah lama sekali dikenal masyarakat Cikeruh. Bias sejarah

Supriatna mengatakan, tidak mustahil cikeruhan itu merupakan seni tradisi yang lahir di Cikeruh, Jatinangor. "Ya, memang belum ada bukti tertulis. Tapi, kalau kita analogikan, cianjuran berasal dari Cianjur, cigawiran berasal dari Cigawir. Begitu juga pencak silat. Cimande itu memang berasal dari Cimande dan cikalong memang berasal dari Cikalong. Jadi, kalau kita beranalogi ke sana, cikeruhan juga mustahil tidak ada kaitannya dengan Cikeruh," ujar Supriatna yang ditemui di kediamannya, Sanggar Motekar, Jalan Achmad Syam Nomor 70, Jatinangor.

Lebih lanjut ia menjelaskan, cikeruhan merupakan seni tari pergaulan yang usianya sudah sangat tua. Embrionya lahir dari tradisi ritual panen padi sebagai wujud rasa syukur kepada Dewi Sri Pohaci (dewi kesuburan) sekitar abad ke-18. Saat itu orang-orang berjalan kaki memikul padi dari sawah ke lumbung sembari menari dan membunyikan alat-alat yang mereka bawa. Lalu, ada seorang pejabat Belanda yang bekerja di perkebunan menghentikan mereka di tengah jalan. Orang Belanda itu ikut menari bersama mereka.

Selanjutnya, pejabat Belanda yang bekerja di kompleks perkebunan karet dan teh sekitar Jatinangor kerap mengundang pemusik dan pelantun lagu yang juga penari (ronggeng) untuk beraksi di kompleks perkebunan tersebut. Saat itu Cikeruh termasuk dalam lingkup kompleks perkebunan teh dan karet Jatinangor. Dari situ tradisi tersebut berlanjut menjadi tari pergaulan. Kata Supriatna, perkebunan merupakan lahan basah bagi para seniman itu untuk menggelar pertunjukan.

Namun, hal itu berbeda dengan keterangan Mas Nanu Munajar. Dalam bukunya berjudul Deskripsi Sajian Tari Cikeruhan (1995), berdasarkan keterangan yang ia himpun dari wawancara, Mas Nanu menyimpulkan, cikeruhan adalah tari tradisional yang dibawa dan dikembangkan di Cikeruh oleh salah seorang pangeran Sumedang. Tariannya berupa tarian tunggal pria yang diambil dari tingkah laku manusia dan binatang (Munajar, 1995:11-12).

Bukan hanya masalah sejarahnya yang berbeda, definisinya pun masih ambigu. Mas Nanu mengatakan, cikeruhan awalnya merupakan nama lagu untuk mengiringi ketuk tilu gaya Bandung (pakidulan) (Munajar, 1995:37). Ia menyimpulkan, ketuk tilu ada lebih dulu daripada cikeruhan dan cikeruhan ini adalah salah satu bentuk lain dari ketuk tilu.

Menyempit

Untuk membuat kesimpulan akhir tentang sejarah cikeruhan tentu perlu diadakan penelitian lebih mendalam. Namun, yang pasti, menilik sejarah kemunculannya, cikeruhan merupakan seni tari pergaulan. Pada dasarnya cikeruhan terdiri dari penabuh kendang; penggesek rebab; serta pemukul goong, ketuk tilu, dan kecrek. Kemudian, ada seorang ronggeng yang menyanyi sambil menari.

Pada tahap selanjutnya ditambah seorang pesinden. Ronggeng bertugas menari saja. Penonton akan menari bersama ronggeng dan membayar lagu yang dipesan. Yang khas dari cikeruhan adalah gesekan rebab dan tabuhan kendangnya. Tariannya bebas tanpa pakem. Tarian tersebut merupakan interaksi antara penonton dan ronggeng.

Kini ambuguitas cikeruhan semakin terasa dari gerak tarinya. Seniman akademisi menciptakan konsep koreografi tari cikeruhan. Mas Nanu merupakan salah seorang pelaku seni yang menciptakan koreografi cikeruhan. Dalam buku Deskripsi Sajian Tari Cikeruhan ia menerangkan alur sajian gerak yang terdapat pada cikeruhan, yaitu arang-arang bubuka, cikeruhan, kangsreng, dan arang-arang panutup. Ia juga mengombinasikan cikeruhan dengan pencak. Jadi, cikeruhan berbentuk seni tari pertunjukan yang terdiri dari dua penari perempuan (ronggeng); dua penari pria sebagai jawara; pengendang; penabuh goong, kecrek, ketuk tilu, dan rebab; serta pesinden.

Menanggapi hal itu, Supriatna yang juga pensiunan guru di Jatinangor berpendapat, hal tersebut wajar. Ia setuju dengan pengembangan seperti itu. Sebab, menurut dia, kesenian harus selalu mengikuti perkembangan zaman dengan catatan tidak meninggalkan akarnya. Supriatna menjelaskan, upaya itu bisa menimbulkan persepsi bahwa cikeruhan merupakan seni pertunjukan, bukan pergaulan lagi.

"Iya, cikeruhan itu kan sebuah tari pergaulan. Artinya, tari yang tidak berpola baku. Tapi, kalau sudah dalam bentuk CD, misalnya, nanti anak cucu kita akan menyangka bahwa cikeruhan itu tari yang seperti itu. Jadi, menyempit. Padahal, sebenarnya cikeruhan kan tidak hanya begitu. Dia menari boleh bebas. Jadi, nanti ada perubahan genre dan sifat dari tari pergaulan menjadi tari pertunjukan. Perbedaannya jelas antara pergaulan dan pertunjukan. Kalau pertunjukan, orang tidak ikut menari. Kita hanya menonton, tidak bisa ikut menari," papar Supriatna.

Meskipun terkesan ambigu dan multitafsir, pada akhirnya Sanggar Motekar tidak mau terlibat dalam perdebatan panjang soal sejarah cikeruhan. Di daerah asalnya, cikeruhan sudah masuk ke taraf gawat. Di sana tinggal ada satu orang yang ahli menggesek rebab dan menabuh kendang cikeruhan. Padahal, kedua alat musik itu adalah yang khas dari cikeruhan.

Sanggar Motekar kini berusaha membangkitkan kembali cikeruhan dengan memberikan pelatihan penggesek rebab dan penabuh kendang di sanggar. Mereka juga aktif mempertunjukkan cikeruhan pada acara tertentu di sekitar Sumedang.

Usaha Sanggar Motekar sudah mulai berbuah ketika SMPN 3 Jatinangor memasukkan cikeruhan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah ini menjadi satu-satunya sekolah di Sumedang yang mengangkat cikeruhan sebagai kegiatan siswa. Semoga cikeruhan tetap lestari, khususnya di Cikeruh, Jatinangor.
FANDY HUTARI Penulis Lepas dan Penyuka Seni

0 komentar:

Poskan Komentar