Minggu, 20 November 2011

Pendidikan (yang) Berkarakter

Saya sudah lama termenung di bawah pohon yang rindang untuk berteduh, dan sudah lama pula saya merenungkan pendidikan yang berkarakter. Bagaimanakah memulainya? Bagaimanakah caranya? Bagai menerapkannya? dan banyak lagi pertanyaan lainnya.
Saya pernah menikmati layanan taksi yang memuaskan, dan menjadi referensi saya jika melakukan perjalanan di sebuah kota besar. Mengapa saya suka pada taksi tersebut, karena para supirnya berkarakter baik, ramah, tidak pilih kasih, jujur, sopan. Setelah saya tanyakan pada beberapa supi, mereka memjawab bahwa pihak mnajemennya selalu mengontrol kualits pelayanan para supir dengn cara para pengguna jasanya dapat menyampaikan keluhannya apabila ada supir yang kurang baik, dan pihak perusahaan akan segera menindaknya. Artinya “bawahan” akan berkarakter karena “atasannya” juga berkarakte, hal itu adanya pendidikan yang berkarakter.
Kemudian saya mengalihkan pada pendidikan yang berkarakter di sebuah institusi pendidikan, jika berasumsi pada cerita supir taksi saya, maka akan ada rentetan sebagai berikut. Peserta didik akan berkarakter apabila tenaga pendidiknya berkarakter (menanamkan karakter baik dengan memberi contoh pada peserta didik). Tenaga pendidik akan berkarakter apabila “atasannya” berkarakter (menanamkan karakter yang baik pada tenaga pendidik, atau memberi contoh berkarakter baik). Dan begitu seterusnya, tentunya penanaman karakter tersebut tidak bisa dengan instan.
Masih di berterduh dipohon yang rindang, saya sempat mendengar ocehan para remaja, “Buat apa kita jujur di sekolah, buat apa kita belajar keras, buat apa kita bernilai tinggi, lihat saja yang sudah lulus lama, juga kelakuannya kurang baik, harus mereka yang sudah lulus memberikan contoh yang baik pada generasi berikut“. Jika saya cermati para remaja tersebut mengabaikan pendidikan karakter yang ditanamkan tenaga pendidik di satuan pendidikannya. Bisa jadi pihak satuan pendidikan sudah mati-matian menanamkan pendidikan berkarakter, tapi keluar keluar dari area satuan pendidikan membaca, melihat berita banyak orang “sukses” dengan tidak berpendidikan karakter baik.
Pemahamahan saya bahwa pendidikan karakter harus dilakukan menyeluruh oleh semua warga negara Indonesia mulai dari pada pejabatnya sampai rakyatnya, sehingga pendidikan karakter akan tertanam dengan subur dan memiliki akar karakter yang kuat, bukan hanya formalitas selama di lingkungan pendidikan. Artinya program pendidikan harus didukung oleh semua pejabat, pemangku kebijakan, tokoh masyarakat, agar para peserta didik dapat mudah menanamkan pendidikan  karakternya karena banyak contoh.
Bisa jadi bagi peserta didik yang ingin menjadi supir taksi yang saya sebutkan di atas tentunya aka bertanya, belajar dan meniru gaya pelayanan supir taksi tersebut agar memeiliki karakter yang diinginkan oleh manajemen perusahaan taksi tersebut.
Ah tidak terasa ada yang jualan makanan nih, maaf saya membeli makanan dulu, apabila ada yang rela berbagi mengenai pendidikan yang berkarakter atau pendidikan karakter saya menunggunya, terima kasih.

0 komentar:

Poskan Komentar